Bagian Pertama
Ada saat-saat di mana Bari bukan main perkasanya. Entah apa sebabnya. Bukan bulan purnama, bukan bulan mati. Bukan bulan muda, bukan bulan tua. Tidak pula karena ia makan sate kambing, atau minum obat kuat. Bukan karena sedang cuti, bukan karena mendapat bonus. Pokoknya, tidak ada penyebab khusus. Surti pernah memikirkannya, mencari penyebabnya, karena ia tentu saja ingin Bari sering-sering begitu! Tetapi akhirnya ia menyerah, karena "fenomena bergairah" itu tidak pernah teratur. Tidak ada polanya!
Misalnya hari ini, hari Selasa di pertengahan bulan yang kebetulan sedang kemarau. Pagi-pagi sekali, sebelum mandi dan sarapan, Bari sudah menelusup ke leher istrinya, mencium dan menggigit-gigit kecil untuk membangunkan Surti. Sebetulnya Surti sendiri sudah terbangun sejak tadi, cuma masih malas membuka mata. Ia memeluk erat-erat suaminya, menggelinjang sambil tertawa kecil.
"Kamu tidur dengan pakaian lengkap, seperti mau upacara bendera!" protes Bari sambil meremas-remas bagian belakang tubuh Surti.
"Ya, ampun," keluh Surti, "Masak seperti ini disebut pakaian lengkap?"
"Lha, iya!" sergah Bari lagi, "Masak tidur memakai be-ha dan celana dalam segala."
Surti tergelak, dia selalu memakai keduanya. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Pasti ada maunya...
"Breakfast in bed, yuk!" bisik Bari sambil menelusupkan kepalanya lebih ke bawah lagi, ke antara dua bukit di dada istrinya. Hmmm.., lelaki itu selalu suka menghirup keharuman lembut dari sana.
"Aku belum lapar...," goda Surti, tetapi sambil meraih ke belakang dan melepaskan kait be-hanya. Sekejap kemudian ia menarik lolos be-ha itu dari balik dasternya. Payudaranya segera terbebas.
"Memang aku yang mau makan kamu..," kata Bari sambil menarik turun daster istrinya. Segera dada Surti yang subur sekal segar itu terpampang. Cepat-cepat Bari menelusuri bulatan sintal yang menggairahkan itu dengan hidung dan mulutnya. Hmmm... tambah harum jika dicium tanpa penghalang seperti ini.
"Pelan-pelan, yaa...," bisik Surti sambil menggelinjang, "Nanti kamu keselek."
Bari menjulurkan lidahnya, menelusuri lembah di antara dua payudara istrinya. Hmm.. agak asin karena ada sedikit bekas keringat di sana. Tapi tambah asyik... Bari naik ke bagian atas, melingkari wilayah bulat coklat-hitam di pangkal puting Surti. Hmm.. di sini tidak begitu asin....
"Aaah... geli, Yang...," desah Surti, tetapi sama sekali tidak bermaksud memprotes.
Bari berputar-putar lagi di tempat yang sama, dengan takjub melihat puting yang tadinya tergolek lemah kini perlahan menegak tegang. Setelah tegak sepenuhnya, tak tahan lagi, Bari memasukkan puting itu ke mulutnya. Pelan-pelan disedotnya daging kenyal hangat itu....
"Aaah... geli sekali, Yaaaang...," erang Surti, sama sekali tidak memprotes, melainkan justru bermaksud menambah semangat suaminya.
Dalam sekejap puting kiri Surti sudah basah dan berdenyut hangat. Warnanya tidak lagi coklat semata, tetapi juga bertambah gelap dan agak merona merah. Apalagi Bari juga kadang-kadang memainkan lidahnya di dalam mulut, menekan-nekan puting itu ke kiri dan ke kanan.....
"Yang satu lagi ngiri, Yaaang...," desah Surti gelisah, sambil meremas sendiri payudaranya yang sebelah kanan.
Bari melepaskan mulutnya dari payudara kiri, berpindah cepat ke payudara kanan. Surti mengerang keras, menggelinjang gelisah, karena Bari kini meremas payudara kiri yang telah ditinggalkan mulutnya. Kini dua-dua bukit gairah sensual itu terasa geli-gatal belaka. Sambil mendesis dan mendecap seperti orang kepedasan, Surti memejamkan matanya, menikmati sensasi luarbiasa di pagi yang segar ini!
Bari sendiri sangat terangsang kalau bermain-main di payudara istrinya. Ia suka sekali menyedot, ... mengulum, ... meremas... dan kadang menggigit pelan... kedua bukit lembut yang hangat dan harum itu. Rasanya seperti bermain-main di suatu masa lampau, mungkin ketika ia masih kecil dulu, dalam buaian Ibu yang memberinya susu penuh gizi. Mungkin semua lelaki begitu,... suka bermain-main di susu wanita karena terkenang masa hangat bahagia di pelukan Wanita Mulia yang melahirkannya.
Surti menelentangkan diri, membentangkan tangannya di atas kepala, sehingga dadanya lebih bebas terbuka. Bari mengangkat badannya, naik menjelajah payudara yang menjulang menantang itu dengan gairah yang semakin membara. Lalu satu tangannya merayap turun sambil membawa serta daster istrinya. Sekali tarik, daster itu lolos dari kedua kaki Surti, sehingga kini tinggal celana dalam yang membungkus tubuhnya. Tidak sabar membuka celana dalam itu, Bari menelusupkan tangannya ke bawah, meraih selangkangan istrinya yang dengan otomatis membuka memberi jalan.
"Aaah...!" Surti mengerang keras ketika jari tengah Bari menerobos di antara dua bibir di bawah sana. Rasanya seperti dibelah dua oleh kenikmatan!
Sambil terus mengulum dan menyedot dan menggigit, Bari mengelus-elus lembut lembah cinta istrinya yang mulai membasah. Sekali-sekali ujung jarinya memutar-mutar di atas tombol cinta yang cepat sekali mengeras, terselip di pojok atas bibir kewanitaannya. Surti mengerang-erang semakin keras dan semakin gelisah.
"Buka dulu piyama kamu, Yang...," desah Surti sambil mulai membukai kancing-kancingnya. Cukup susah melakukan hal itu karena Bari tidak mau lepas dari dada dan selangkangan istrinya. Tetapi bukan Surti namanya kalau tidak bisa membuka baju suaminya dalam 5 menit!
"Sixty-nine, Yang...," desah Surti gelisah, nafasnya memburu ingin segera diciumi di bawah sana (her favorite, remember?), dan juga ingin menciumi suaminya.
Bari tidak banyak membantah (what for?!), dan segera mengatur posisi sehingga kini mereka bisa saling hisap, saling kulum, saling sedot, penuh gairah dan penuh rasa kasih yang tak berbatas. Surti mengerang-erang dengan mulut dipenuhi kejantanan suaminya. Bari mendesah-desah sambil menenggelamkan mukanya di antara dua paha mulus istrinya. Decap dan desah saling bersusulan ramai sekali. Erotik sekali! You should try it with the one you love!.
Tidak lama kemudian, keduanya tak tahan lagi. Seperti ada komando khusus, keduanya saling memposisikan diri. Surti menelentang dan membuka kedua pahanya lebar-lebar. Bari mengangkat tubuhnya dalam posisi push-up di atas tubuh istrinya. Lalu, sambil dituntun tangan Surti, lelaki itu menekan dalam-dalam.
"Aaaaaah!" Surti menjerit sambil memejamkan matanya erat-erat. Kejantanan suaminya yang kenyal-keras itu menerobos masuk dengan lancar, langsung membentur bagian yang paling dalam, ... langsung memicu orgasmenya. Cepat sekali!
Sambil bertelektekan di kedua sikunya, Bari menenggelamkan mukanya di leher Surti yang sudah dibasahi keringat. Sambil mencium dan menggigit-gigit kecil, lelaki itu mulai menggenjot, mengeluar-masukkan kejantanannya penuh semangat. Surti mengangkat kedua kakinya, memeluk pinggang suaminya erat-erat, mengunci tubuh yang juga sudah berkeringat itu kuat-kuat. Perjalanan menuju puncak birahi dimulai sudah...
"Ah... yang keras, Yang!" desah Surti, merasakan orgasmenya sudah tiba, dan ia ingin digenjot sekeras-kerasnya!
Bari menekan lebih keras lagi, sampai kadang-kadang ranjang seperti bergeser diterjang tubuhnya. Pangkal kejantanannya -bagian paling keras itu- membentur lingkar-bibir kewanitaan Surti yang sedang berdenyut-denyut mempersiapkan ledakan pamungkas.
"Aaaaaah!" Surti menjerit merasakan ledakan pertama menyeruak dari dalam tubuhnya, "...Ngga tahan, Yang........ Aaaaaaaah!"
Bari terus menekan dan menghujam, ia sendiri juga sudah ingin meledak rasanya. Seluruh perasaannya seperti ingin tumpah ruah sesegera mungkin. Apalagi otot-otot kenyal di kewanitaan istrinya kini mencekal erat, seperti meremas-remas dan mengurut-urut kejantanannya. Bari juga tidak tahan lagi...
"Uuuuuh!" pria itu menggeram sambil menggenjot keras-keras lima kali.
"Ah-ah-ah-ah-ah!" Surti mengerang setiap kali enjotan mahadahsyat itu menerjang tubuhnya.
"Aaaah!" Bari mengerang keras, menancapkan dalam-dalam kejantanannya dan bertahan di sana ketika lecutan-lecutan ejakulasi melanda seluruh tubuhnya.
"Ooooooh!" Surti mendesah panjang merasakan cairah panas tumpah ruah di dalam kewanitaannya dan seperti memberi penyedap utama bagi geli-gatal orgasmenya.
Permainan cinta pertama ini cepat sekali. Tidak lebih dari 15 menit. Tetapi dilakukan dengan sangat bergairah, sehingga setelah mencapai puncak, Bari rubuh menubruk istrinya. Surti tersengal menahan tubuh suaminya, dan menelentang tak berdaya dengan sendi-sendi yang seperti copot!
________________________________________
Diperlukan cukup banyak ekstra energi ketika akhirnya Bari bangkit meninggalkan ranjang untuk mandi dan bersiap ke kantor. Surti tinggal di tempat tidur beberapa lama lagi, memejamkan mata, merasakan dan membiarkan cairan cinta mereka perlahan-lahan merayap turun membasahi seprai. Biarlah! sergahnya dalam hati, sudah waktunya seprai itu diganti.
Baru setelah Bari terdengar selesai mandi, wanita itu bangkit dan melap tubuhnya sebelum ikut masuk ke kamar mandi. Kemudian keduanya sarapan pagi yang sesungguhnya, sambil tersenyum-senyum mengingat kegialaan mereka pagi ini.
"Makan apa, sih, kamu tadi malam?" sergah Surti sambil menyuap nasi gorengnya.
"Ngga makan apa-apa. Biasa saja, steak dan kentang goreng," sahut Bari, teringat bahwa tadi malam ia memang makan malam bersama relasi kantor. Tetapi tak ada yang istimewa di makanan itu. Bahkan sebetulnya ia tak makan banyak karena masih merasa kenyang.
"Sering-sering, deh, begitu...," kata Surti sambil melirik nakal.
"Nanti kamu kewalahan, lho!" kata Bari sambil mencubit hidung istrinya.
"Hey,.. look who's talking!," sergah Surti, "Jangan-jangan kamu yang kewalahan."
Bari tersenyum sambil meneguk kopinya, "Nanti kita buktikan saja, lah!" katanya.
________________________________________
Dan siang itu Bari menelpon mengatakan akan makan siang di rumah.
Surti masih sibuk di studio fotonya ketika Bari tiba dengan dua bungkus mie goreng dan sebotol besar minuman ringan kesukaan mereka. Tahu-tahu suaminya sudah ada di belakang, memeluk dan mencium tengkuknya.
"Sebentar, ya, Yang...," kata Surti sambil membereskan kamera dan film-filmnya, "Kamu duluan, deh. Nanti aku susul ke meja makan!"
"Ngga mau," kata Bari tetap memeluk dan menciumi kuduk Surti.
"Eh, bandel, ya!" sergah Surti sambil terus bekerja membereskan mejanya, sambil menggelinjang kegelian pula karena diciumi di daerah sensitif.
"Biar bandel, asal ganteng!" kata Bari terus mencium, dan sekarang bahkan memegang-megang dada istrinya yang cuma terbungkus kaos. Surti tertawa. Siapa bilang suamiku jelek? katanya dalam hati, dia paling ganteng betapa pun nakal dan bandel dan keraskepalanya!
"Di sini saja, yuk!" bisik Bari sambil menggigit cuping istrinya, membuat wanita itu menjerit kegelian.
"Aduuuuh, nanti ngga selesai-selesai, nih!" keluh Surti sambil sibuk menurunkan tangan Bari dari dadanya. Tetapi begitu diturunkan, begitu cepat naik lagi. Bahkan yang satu sudah masuk menelusup ke balik kaos, dan sudah mengusap-usap. Celakanya lagi, dada yang diusap itu bereaksi positif!
"Nanti saja beres-beresnya," kata Bari lagi sambil menarik istrinya ke sebuah kursi panjang di dekat tembok.
"Eh, apa-apaan.... Koq di sini makannya? Nanti studio ku banyak semut!" protes Surti ketika Bari tidak sabar lagi dan membopong istrinya menuju kursi yang selama ini dipakai untuk tiduran kalau Surti ingin beristirahat di tengah kerjanya.
"Siapa yang mau makan di studio?" tanya Bari sambil dengan hati-hati menurunkan Surti di atas kursi yang dilengkapi dengan bantal-bantal itu.
"Habis, kita mau ngapain?" Surti mengernyitkan keningnya, melihat suaminya membuka dasi.
"Mau bikin film matinee!" sergah Bari sambil duduk dan menciumi leher Surti.
Astaga! Surti baru sadar apa yang dimaksud suaminya. Gila! Padahal tadi pagi ia sudah mengajak bercumbu. Sekarang, belum lagi pukul 1 siang, dia sudah bergairah lagi. Benar-benar surprise!
Surti menjerit kegelian ketika Bari tiba-tiba menyingkap kaos, dan menenggelamkan mukanya di antara kedua payudara yang memang tak tertutup beha itu. Wanita itu tak bisa banyak bergerak karena di desak sampai ke tembok, dan karena suaminya menindih tubuhnya dengan bergairah. Tetapi tentu saja ia sebetulnya juga tidak mau banyak berontak! Ia suka diperlakukan dengan penuh gairah seperti ini.
"Baju kamu nanti lecek, Yang!" sergah Surti melihat suaminya seperti kesetanan. Biar pun ia sedang kegelian, wanita itu masih sempat memikirkan baju pria kesayangannya! Begitulah mulianya hati seorang istri.
"Nanti ganti saja...," desah Bari tak peduli. Lelaki memang maunya praktis saja.
"Sabar, Yaaang...," bisik Surti sambil menahan tawa karena melihat Bari seperti bayi kehausan mencari-cari puting susunya. "Masih ada waktu, kan?"
Bari tak menyahut. Ia sibuk menelusup dan menelusur dada istrinya. Lalu sibuk mengulum dan menyedot, membuat si empunya dada mengerang dan menggelinjang.
"Aaah..," Surti mendesah, mendorong dadanya ke depan sambil merengkuh leher suaminya. Tadi ia bilang "sabar", sekarang justru dia yang tidak sabar!
Siang ini Surti bekerja dengan kaos t-shirt dan celana pendek longgar. Kaos sudah disingkap sampai ke leher. Maka, sambil menggeliat-geliat merasakan mulut suaminya yang sangat aktif itu, Surti membuka celananya sendiri, memelorotkan sekaligus bersama celana dalamnya. Nah,... sekarang ia sudah telanjang dari dada ke bawah. Sudah bebas diperlakukan apa saja oleh suaminya.
Bari memposisikan tubuhnya di sisi kursi panjang tempat mereka bercinta. Lalu ia membuka ikat pinggang dan celananya sendiri. Keduanya seperti sudah sepakat untuk saling membuka pakaian tanpa ada aba-aba sebelumnya. Maklumlah, suami istri ini memang sangat kompak!
Tidak lama kemudian keduanya sudah telanjang, walau Bari masih memakai baju dan Surti masih memakai kaos di atas dadanya. Sambil terus mengulum dan menciumi payudaranya, Bari menempelkan tubuhnya lekat-lekat ke tubuh mulus Surti. Hmmmm... di siang yang gerah seperti ini, nyaman sekali rasanya bersentuhan kulit dengan orang yang terkasih. Walaupun sebetulnya mereka berdua sudah mulai berkeringat, tetapi tetap saja nikmat rasanya menempel seperti perangko dan amplopnya ini.
"Ngggg...," Surti mengerang sambil merenggangkan pahanya, "Jangan dimasukkan dulu, Yang..."
Bari tak menyahut, tetapi ia mengerti maksud istrinya. Biar bagaimana pun, istrinya tentu belum siap menerima percumbuan tanpa rencana ini. Harus ada sedikit upaya untuk membuatnya siap. Sedikit saja, tetapi harus!
"Mmmmm...," Surti mendesah merasakan ujung kejantanan suaminya menelusur celah sempit di antara kedua pahanya, menimbulkan rasa nikmat yang perlahan-lahan menyeruak ke seluruh tubuh.
Dengan satu tangannya, Bari menuntun kejantanannya naik-turun di sepanjang celah yang mulai membasah itu. Oh, geli sekali rasanya ujung kejantanannya menyentuh lembah halus-licin yang seperti kelopak bunga terkuak perlahan. Sekali-sekali ia memutar-mutar ujung tumpul itu di permukaan liang senggama istrinya, merasakan liang itu semakin lama semakin lebar membuka, menyatakan kesediaan untuk ditelusupi-dieskplorasi. Sekali-kali ia naikkan kejantanannya, menggosok-gosok lembut bagian yang tersempil menonjol di lipatan atas bibir kewanitaan istrinya. Itu bagian paling sensitif yang dengan cepat membuat Surti mengerang-mendesah dan semakin merengganggkan pahanya....
"Aaah... enak itu, Yang...," Surti berbisik mendesah dengan mata terpejam, "Oooh... lagi, Yang!"
Bari mengulang lagi dan lagi. Dengan sabar ia terus menggosok-gosokkan kejantanannya, menggunakannya sebagai alat pemicu birahi istrinya. Perlahan-lahan ia mulai merasakan celah sempit di bawah itu mulai membuka dan basah. Kalau ia membawa ujung kejantanannya ke liang kewanitaan Surti, terasa liang itu seperti mau menangkap dan menarik kejantanannya masuk. Sekali-sekali Bari memang menenggelamkan seluruh kepala kejantanannya ke dalam. Surti pun mengerang setiap kali suaminya melakukan itu.
"Mmmmm...," Surti mengerang penuh nikmat, "Dikit lagi, Yang... Ooooh," bisiknya.
Bari mendorong masuk sedikit, sehingga seperempat kejantanannya melesak masuk. Wow... liang yang dimasuki itu masih agak sempit dan berdenyut-denyut ramai!
"Uuuh....," Surti mendesah sambil menggeliat, "Di situ aja dulu, Yang...."
Bari tertawa kecil sambil bergumam, "Kamu banyak maunya!"
Surti ikut tertawa, dan memprotes manja, "Jangan becanda, dong. Aku, kan, lagi serius, nih!"
Bari menahan tawanya, sambil menciumi leher istrinya yang sedang terpejam dan megap-megap merasakan nikmat. Ada-ada saja istriku, pikirnya, masak bercumbu saja pake serius-seriusan segala! Tetapi Bari memang pernah juga membaca, bahwa wanita memang lebih memerlukan keseriusan dalam bercumbu. Wanita mudah terangsang kalau seluruh pikirannya tercurah untuk percumbuan. Sedikit saja pikirannya terganggu, seorang wanita bisa kehilangan gairah. Walaupun begitu, rasanya dengan Surti teori itu tidak selalu berlaku, deh!
"Aaah...," terdengar Surti mulai mendesah lagi, dan pinggulnya berputar-putar gelisah, "Dikit lagi Yang..... tapi jangan semuanya...."
Oke boss! ucap Bari, tetapi dalam hati. Pelan-pelan ia mendorong masuk kejantanannya, menerobos liang yang semakin membuka tetapi juga semakin berdenyut seperti mulut kecil yang sedang sibuk mengulum permen kesukaan. Surti menggeliat dan menggerang lagi. Bari mendorong sedikit lagi, sehingga kini tigaperempat kejantanannya terhenyak sudah.
"Ooooh....," Surti mengerang sambil memutar-mutar pinggulnya. Bari bertelektekan di sikunya, berusaha menjaga agar kejantanannya tidak seluruhnya masuk. Dengan gerakan-gerakan Surti, rasanya kejantanan itu seperti sedang mengaduk-aduk sebuah wahana lentur-kenyal yang basah dan licin. Bari melihat ke bawah, terpesona memandang kejantanannya yang tampak sedikit di atas cekalan bibir kewanitaan istrinya yang berputar-putar penuh gairah.
Surti memejamkan mata dengan nafas memburu, merasakan betapa nikmatnya memutar-mutar pinggul dengan batang kenyal-padat tertanam sedikit di gerbang kewanitaannya. Gerakan memutar itu menyebabkan seluruh lingkar luar liang senggamanya seperti diurut-urut, menimbulkan rasa geli-gatal yang menggairahkan. Inilah salah satu foreplay... permainan awal.... yang disukainya. Dengan begini, ia akan segera siap menuju langkah berikutnya.
"Aaaah...," Surti mengerang keras, menggeliat gelisah, "Ayo masukin semua, Yang...."
Oke, boss! ucap Bari dalam hati lagi. Pelan-pelan ia menurunkan tubuh bagian bawahnya, dan pelan-pelan kejantanannya melesak masuk sampai ke pangkalnya. Begitu terhenyak 100%, Surti mengerang keras dan menghentikan gerakan pinggulnya. Wow! Bari merasakan dirinya tenggelam dalam lubang dalam yang panas dan basah dan berdenyut.... Merasakan ujung kejantanannya membentur dinding halus-licin bagai sutra dilapisi cairan khusus... Sejenak pria itu diam saja menikmati sensasi luar biasa di sepanjang kejantanannya.
Surti mengerang-mendesah dan merengkuh tubuh suaminya erat-erat. Kedua kakinya membentang seluas mungkin lalu naik memeluk pinggang Bari, mengunci tubuh mereka dalam sebuah persatuan yang menggairahkan. Sejenak mereka diam saja, saling memeluk dan berciuman mesra, merasakan per-"satu-tubuh"-an di siang bolong yang terik ini. Keduanya sudah agak berkeringat, dan kedua payudara Surti yang sintal sudah terhenyak rapat di bawah dada suaminya yang masih memakai kemeja. Tak rela berpelukan dengan baju, wanita itu cepat-cepat membuka kancing-kancing suaminya. Sekejap kemudian keduanya mengerang-mendesah karena akhirnya tak ada lapisan yang membatasi pertemuan tubuh mereka. Kedua puting susu Surti terasa nikmat ditekan-ditindih oleh dada suaminya yang bidang dan kukuh itu. Bari pun merasa nikmat tertelungkup di atas hamparan lembut kenyal dada istrinya.
"Begini aja, yuk?!" desah Surti sambil menciumi muka suaminya penuh kemesraan. Ia senang sekali tertancap-terpaku jadi satu seperti ini.
"Cuma diam begini?" tanya Bari dengan nada lucu sambil membalas ciuman istrinya.
Surti tertawa kecil di tengah nafasnya yang memburu, "Boleh gerak, dikiiiiit..." bisiknya manja.
"Seperti ini?" tanya Bari sambil mulai menggerakkan pinggulnya memutar-mutar perlahan.
"Mmmmmhh....," Surti menjawab dengan erangan. Aduh ini, sih, terlalu sedikit, pikirnya menyesal mengatakan "dikit" tadi.
"Atau begini?" tanya Bari sambil menaik-turunkan pinggulnya, pelan-pelan saja.
"Aaaah....," Surti mendesah dengan nafas semakin memburu, "Dua-duanya, Yang...Oooh... Aku suka dua-duanya, Yang!"
Bari tersenyum dan dengan gemas mencium mulut istrinya, membungkam si ceriwis yang menggairahkan itu. Segera pula ia mengerjakan "dua-dua"-nya, yakni menaik-turunkan pinggulnya sambil memutar-mutar. Tetap dengan gerak lambat namun mantap. Kejantanannya dengan perkasa merasuk-meruyak liang cinta istrinya yang kini sudah terbuka pasrah dan basah. Lancar sekali otot pejal-tegang itu menerobos-nerobos, menimbulkan suara-suara seksi berkecipak ramai.
"Aaah... Ngggg...," Surti mengerang tidak karuan sambil megap-megap dan memejamkan matanya, berkonsentrasi menikmati hujaman suaminya yang perkasa. Bari melepaskan ciumannya, karena Surti seperti ingin bicara. Lalu terdengar wanita itu mendesah penuh permohonan yang manja, "Boleh lebih cepat, .... oooooh..... Yang,..... aku mau, Yang..... Aaah!"
Pura-pura tidak mau, tahu-tahu paling mau! sergah Bari dalam hati sambil menahan tawanya. Ia mempercepat hujaman dan tikaman kejantanannya. Kursi panjang tempat mereka bercumbu berderit-derit ramai, karena sebetulnya itu bukan tempat bercumbu. Surti mengerang-erang sambil mencengkram pinggang suaminya, ikut membantu menaik-turunkan tubuh Bari. Padahal lelaki itu tak perlu bantuan, tetapi mungkin dengan berpegangan ke pinggang seperti itu, Surti bisa memastikan bahwa suaminya tidak akan berhenti!
Setelah kira-kira selusin kali menggenjot, Bari merasakan liang kewanitaan istrinya menyempit dan mencekal erat-erat. Itu pertanda awal orgasmenya. Surti pun sudah mengerang-erang semakin keras dan menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Bari mengerti tanda-tanda ini sepenuhnya. Maka ia mempercepat dan memperkeras gerakannya. Bahkan kadang-kadang ia menghentak dan menghujam dengan gerakan kasar, membuat kursi panjang bergetar dan bergeser sedikit. Tetapi justru itu membuat Surti tambah keenakan, dan setelah tiga empat kali "dikasari" seperti itu, wanita ini mencapai puncak birahinya.....
"Mmmmmm.........," ia mengerang panjang, lalu berteriak pendek-pendek, "Ah...ah...ah...!"
Bari menghujam dalam-dalam, lalu memutar-menekan dengan sekuat tenaga.
"Oooooooooooooh!" Surti menjerit keras, meregang dan melentingkan tubuhnya, lalu terhempas kembali ke bawah sambil bergetar kuat seperti orang yang kena hukuman di kursi listrik. Kursi berderit-derit ramai, dan Bari menekan-menindih tubuh istrinya kuat-kuat agar mereka berdua tidak terlempar ke lantai! Bagi Surti, orgasme itu sangat dahsyat. Seluruh tubuhnya ikut tersaput ledakan-ledakan kenikmatan yang bermuara di kedua pangkal pahanya. Dari lembah basah yang tersumpal batang liat-pejal itulah datangnya riak-gelombang besar yang melanda seluruh tubuhnya...... Surti seperti merasa berenang terapung dan terombang-ambing dalam lautan geli-gatal yang merasuk ke seluruh pori-pori tubuhnya. Beberapa menit kesadarannya seperti hilang dan tubuhnya lepas dari kendali, bergerak-gerak liar ke segala arah.
Setelah beberapa saat menggelepar dan meregang menikmati orgasmenya, Surti berhasil menguasai diri, lalu mendesah dengan suara letih, "Aduuuh.... gila kamu, Yang.... bikin aku ketagihan!"
Bari tertawa kecil sambil menggigit dagu istrinya tercinta, "Ini mau protes atau mau bilang terimakasih?" tanyanya.
Surti tak menjawab, melainkan meraih leher suaminya, menciumi mulut pria yang sangat dicintainya itu. Mereka saling mengulum dan menggigit gemas. Surti menumpahkan seluruh perasaannya lewat ciuman itu. Ia ingin berterimakasih,... ia ingin memuji, .... ia ingin memuja, ....ia ingin menyatakan cinta. Tak ada pria lain yang ia cintai seperti pria yang satu ini. Pria ini membuatnya lebih hidup dari sekedar hidup, lebih bernafas daripada sekedar bernafas. Pria ini mengisi dunianya dengan gairah baru setiap hari. You are the one that I adore... bisik Surti dalam hati.
Lalu, di tengah ciuman yang bergelora itu, mereka mulai bergerak lagi. Bari mulai menggenjot lagi, mulai memicu kembali gairah Surti yang belum sepenuhnya reda. Tak berapa lama kemudian mereka sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Nafas keduanya memburu dan saling bersusulan, disertai erangan dan desahan yang tidak beraturan. Kursi panjang semakin bergeser dari kedudukannya semula. Bantal-bantal berserakan tertendang atau terdorong oleh gerakan-gerakan mereka yang semakin liar. Keringat mulai membanjiri tubuh mereka, membuat kemeja Bari basah kuyup di bagian punggung. Tubuh bagian bawah, terutama dari pinggang ke bawah, tampak paling basah, berkilat-kilat seperti dilapisi lilin dan minyak.
Lalu Surti mencapai orgasmenya yang kedua tanpa bisa ditahan lagi. Wanita itu menggelepar dan mengerang-erang sambil memejamkan matanya erat-erat. Wajahnya tampak berkonsentrasi dan merona merah mempesona. Mulutnya terbuka dan nafasnya keluar dalam hempasan-hempasan pendek. Bari terus menggenjot karena ia juga sudah mencapai tarap akhir pendakian asmara ini. Ia tidak berhenti walau tampaknya Surti telah kewalahan menahan rasa geli-gatal yang memuncak. Wanita itu berusaha memperlambat gerakan suaminya, tetapi ia juga tak berdaya karena setengah dari tubuhnya ingin tetap menikmati hujaman-hujaman Bari. Akhirnya ia menyerah saja, menggeletak dan meregang-regang terus menikmati orgasmenya yang sambung-menyambung.
Lalu Bari mencapai puncak birahinya. Pria itu menggeram dan mengerang keras. Seluruh otot ditubuhnya meregang seakan-akan beramai-ramai mendorong keluar cairan cinta dari pinggangnya ke kejantanannya. Lalu sejenak ia terdiam, menanamkan dalam-dalam kejantanannya di liang cinta istrinya.... dalam sekali, sampai melesak ke pangkalnya,.. sampai menyentuh langit-langit terdalam kewanitaan istrinya. Surti menguakkan kedua pahanya seluas-luas mungkin, merasakan kejantanan suaminya seperti membesar sepuluh kali lipat.... sebelum akhirnya batang keras-padat itu melonjak-lonjak liar dan menyemprotkan cairan-cairan kental panas...... Ooooooh.... kewanitaan Surti seperti sebuah ladang kering yang tersiram hujan yang dinanti-nanti sejak lama!
________________________________________
Siang itu, Bari makan sangat lahap. Nyaris ia habiskan kedua bungkus mie goreng yang tadi dibawanya. Nyaris pula ia meneguk habis minuman ringan dingin dalam botol ukuran 1 liter itu. Surti tak henti-hentinya memperingatkan agar suaminya makan lebih lambat. Wanita itu kuatir Bari tersedak atau terserang kram perut.
"Duuh... pelan-pelan, Yang!" sergah Surti sambil menyingkirkan jauh-jauh botol minuman yang tinggal seperempatnya.
"Tadi, waktu aku pelan-pelang, kamu suruh cepat-cepat...," sahut Bari sambil menyuap satu sendok penuh mie goreng yang lezat itu.
Surti tertawa, mengerti apa yang dimaksud suaminya, "Lho, tadi itu, kan, perkara lain. Lagipula, pada awalnya, kan, juga pelaaaaaan... sekali!" katanya manja.
"Ah, kamu memang suka ngatur...," protes Bari sambil terus menyuap, padahal mulutnya belum kosong sekali.
Surti mencubit lengan suaminya dengan gemas, "Alaaaah... Kamu juga suka, kan, diatur kalau lagi begitu!" katanya membela diri.
"Oke, nanti malam kamu atur lagi, ya!?" kata Bari sambil meraih botol minuman yang sudah disingkirkan jauh-jauh. Tanpa gelas, ia meneguk isinya langsung.
Surti membelalakan matanya yang mempesona itu, "Nanti malam? Yaaaa... ampun. Belum cukup juga, Yang?"
Bari tertawa, hampir saja tersedak. Surti menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar mengherankan; apakah ia begitu karena sebentar lagi ulangtahunnya yang ke 32? pikir Surti sambil menatap suaminya lekat-lekat. Kalau sedang tertawa, suamiku makin muda saja tampangnya. Makin cute dan makin menggemaskan. Nanti malam, harus kuapakan dia?


4 komentar to "3x Sehari Non Obat"

Posting Komentar