[ Part 1 | Part 2 | Part 3 ]
Hubungan kami berawal dari dimuatnya surat pembacaku, ketika aku masih mahasiswa, di satu surat kabar yang beroplah nasional tentang kesulitan mengirim surat ke luar negeri. Seminggu kemudian datang surat kepadaku mengomentari suratku dan menceritakan hal yang sama dengan yang kualami. Ia mengatakan hobinya juga surat-menyurat ( korespondensi ) dan mengajak bertukar hobi denganku.Semenjak itu kami rajin saling berkirim surat. Walaupun belum pernah saling ketemu, karena saling pandai menyusun kata-kata, kami serasa sudah akrab.
Amelia, sahabat penaku itu, waktu itu bekerja sebagai asisten apoteker di kota Cikampek. Ia memang lahir di situ, ayahnya mempunyai penggilingan beras. Seperti lajimnya pengusaha di kota kecil, ayahnya keturunan Cina. Ia sulung dari 6 bersaudara dan akhirnya aku juga akrab dengan keluarganya akibat sering main ke sana kalau liburan. Ia lebih tua 1 tahun dariku. Waktu itu aku sendiri punya pacar di fakultas dan Lia beberapa mempunyai "teman dekat", seperti diceritakannya kepadaku lewat surat-suratnya.
3 tahun setelah kami akrab, ia pindah ke Jakarta dan diserahi pekerjaan mengelola apotik di daerah Jakarta Barat. Waktu itu aku sendiri sudah selesai kuliah dan mulai mencari pekerjaan di ibukota. Hubunganku dengannya sudah cukup akrab. Beberapa kali aku menginap di rumah kos-nya. Ia kos bersama adik laki-laki tertuanya, yang kuliah di salah satu fakultas kedokteran. Waktu itu ia sedang pacaran dengan seorang bule, John, karyawan suatu perusahaan Belgia. Aku, John, Lia dan Erik - adiknya, sering berjalan bersama. Waktu itu aku sendiri juga bekerja di daerah Jakarta Barat dan kos di dekat camer - calon mertua. Pacarku sendiri sedang kuliah di Gajah Mada, Yogya.
Sampai akhirnya si John meninggal dunia, karena kecelakaan pesawat ketika sedang pulang ke Belgia. Ayah Lia waktu itu sedang masuk RS dan aku setiap malam menunggui, bergantian berdua dengan Erik atau dengan Lia, sampai juga meninggal setelah 10 hari dirawat. Kesedihan karena ditinggal si John dan ayahnya, membuat Lia memintaku banyak mendampinginya. Kalau selesai bekerja, kalau Erik sibuk kuliah, Lia memintaku menjemput ke apotik. Kalau ia dinas malam, aku biasa menungguinya sebelum ia selesai bekerja. Sering aku dan Erik - kalau sudah pulang kuliah, menunggui berdua - lalu pulang bertiga. Semua teman kerja dan induk semang kosnya sudah kenal aku semua. Dan di antara kami semuanya berjalan biasa saja. Amelia ini tinggi badannya lumayan, ada 5 cm di atas tinggi badanku. Jadi orang pasti tidak mengira kalau kami sedang pacaran. Lia tahu mengenai pacarku di Yogya.
Walaupun demikian, kedekatan kami lama-lama membuat adanya "rasa lain". Kami biasa menonton berdua kalau Lia pulang sore. Dia juga biasa jalan bergayut di lenganku, pun kalau bertiga dengan Erik. Sore itu, hari Sabtu, ia pulang jam 2 dari apotik. Erik lagi pulang ke Cikampek dan ia kelihatannya sedang sedih ( "Aku ingat John," katanya ), maka tangannya tak mau lepas dari lenganku. Kesedihan itu dibawanya masuk gedung, selama film ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Spontan, kalau ia terdengar mengeluh sedikit, aku mengelus-elus kepalanya.
Setelah beberapa demikan, tiba-tiba saja, aku sudah menciumi pipinya. Ia mengeluh lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku. Kami berpagutan bibir cukup lama, ia seakan sedang menumpahkan semua beban pikirannya kepada pagutan bibir-bibir kami. Aku betul-betul terhanyut, tetapi masih dapat "menjaga kesopanan" dengan hanya memegangi pipinya saja.
Di taksi pulang ia diam saja. Hanya pegangan di lenganku semakin bertambah erat.
Sampai di kosnya, ia memintaku masuk kamarnya. Tante kos sudah kenal baik denganku dan aku memang biasa masuk kamar mereka. Hanya saja kali ini ia langsung memelukku dan mengulangi kembali pagutan di bibirku. Aku sedikit bingung, sebelum kemudian memutuskan untuk mengikuti keinginannya.
Kupeluk erat-erat ia yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Aku duduk di sampingnya sambil memegangi kedua pipinya. Otomatis, saking serunya ciuman kami, Lia akhirnya terdorong ke belakang dan posisinya menjadi tertidur. Tiba-tiba saja tanganku sudah pindah ke dadanya dan dari luar ( ia masih memakai bajunya ) mengelus tetek sebelah kanannya. Lia melenguh ( bukan hanya mengeluh! ) dan tangan kirinya menaikkan posisi kaos yang dipakainya.
Lalu aku sudah menggenggam tetek kanannya tanpa halangan apa-apa. Wow ....., tak begitu besar, tetapi ..... putihnya mack......... Aku mengelus tetek itu sambil sekali-kali memijit bundaran di bawah ujung pentilnya. Lia seakan kesetanan, ia langsung mencopot kaos yang dipakainya. Dadanya telanjang dan.......
Aku tak dapat lagi menahan diri. Sejenak kuteliti wanita di hadapanku ini. Lehernya putih, anak-anak rambut yang menggerai di sekeliling lehernya membuat kontolku mengejang. Bahunya yang pualam menyangga mulutnya yang sedikit menganga dan mengeluarkan desis lirih yang memburu. Matanya terpejam. Rok bawahnya masih terikat, tetapi pantatnya sudah membuat gerak memutar-mutar sedikit.
Lalu kutelusuri lehernya. Tanganku turun ke arah tetek kanannya. Ia menempelkan badan erat-erat ke badanku. Kuputar telapakku di tetek kanannya. Ia mengelinjang. Ketika tanganku pindah ke tetek kiri, gelinjangannya bertambah dan tangannya langsung ke bawah badanku, mencari sela-sela pahaku. Ketika aku mulai menjilati pentil teteknya, tangannya menerobos ritsleting celanaku dan .......... aku sedikit menggelinjang ketika ia mulai menggenggam kontolku.
Kedua tangannya berusaha menurunkan celana dalamku, tetapi masih sulit karena celana panjangku masih bertengger di sama. Sementara itu mulutku mulai mengulum pentilnya bergantian. Dilepaskannya kontolku dan, karena kegelian dan merasa enak, ia merengkuh kepalaku, ditariknya ke arah pentilnya. Lalu tiba-tiba .........
Didorongnya badanku, sambil nafasnya terburu, dicopotnya rok yang masih dipakainya. Lalu tanganku diraihnya, dimasukkannya ke dalam CD nya. Pelan-pelan kuelus jembutnya ..... wah, lebat betul. Dari sekian wanita yang pernah "kutelanjangi", baru kali itu aku melihat pubis ( rambut jembut ) yang demikian lebat. Lebat, panjang, ketat. Hitam bukan main. Enak, amat enak untuk dilihat.......
Kuelus-elus itu jembut, kugelitik-gelitik rambut-rambutnya mencari lubang memeknya. Tak mudah ketemu, tetapi sudah basah karena air nikmatnya sudah keluar. Lia sendiri membantuku dengan menekan-nekan tanganku yang di permukaan jembut itu. "Euuuhhh.....eeuuuuuhh...." gelinjangnya. Lau, tak sabar, diturunkannya CD-nya yang sudah di pahanya. Telanjang bulatlah ia.
Gila, putihnya, mek ! Pantatnya yang bulat, yang biasanya kupegangi ( dari luar ) kalau ia lagi bergelayut di lenganku, betul-betul indah. Pinggulnya apalagi. Kontolku langsung berdiri menegang melihat itu semua dan mengantisipasi "tugas lanjutannya". Kugosok-gosokkan ujung hidungku ke pinggul itu, pelan-pelan kujilati........memutar ...... menuju ke pantatnya yang indah. Kuremas-remas bulatan pantatnya, sambil kegesek-gesekkan ujung hidungku terus. Harum baunya, huarruuummmm sekali. Kontolku yang tegang bergerak-gerak terus .......
Ia tak sabar .... dipegangnya tanganku, dibimbingnya untuk kembali menusuk-nusuk memeknya. Ia sendiri seakan kesetanan menunggu lubang memeknya dimasuki jari-jariku ....... Tetapi aku kembali berkonsentrasi ke pentil dan teteknya. Kujilat, kuelus memakai lidah, kusedot pelan-pelan sambil ia melenguh-lenguh dan menggelinjang-gelinjang. Akhirnya ia sudah tak sabar lagi. Tangannya mulai menurunkan celana panjangku. CD-ku langsung dilorotnya ke bawah. Lalu tangannya menggenggam-genggam kontolku.
Aku serasa melayang. Sebagai laki-laki, selama ini kalau ia bergayut di lenganku sambil berjalan-jalan, aku sering membayangkan tangannya yang putih dengan jari-jarinya yang panjang-panjang mengelus-elus kontolku. Atau kujilati tetek dan pentilnya yang sering membayang kalau ia memakai baju tipis. Hanya, selama itu aku hanya berani membayangkan, karena aku menghormatinya sebagai rekan akrab. Rupanya sore itu lain .............
Ia langsung membalik, mengarahkan mulutnya ke kontolku. Lalu tanpa basa-basi di lomotnya kontol itu. Aku sendiri langsung meneroboskan muka ke arah jembutnya. Tanganku memisahkan rambut-rambut di situ dan ....... kulihat kelentitnya sudah kelihatan di luar. Kugosok-gosok perlahan permukaan kelentit itu. Lia menggelinjang-gelinjang. Kujilati kelentit itu sambil kuisap-isap.
"Ouww Wied......... ouw Wwwwwwwwwiieedddddddddddd," lenguhnya, "Terussssssss...... teruuuusssssssss," lenguhnya dalam. Isapannya di kontolku melemah akhirnya. Kupikir ia sudah selesai. Tiba-tiba, ia membalikkan badan lagi dan langsung berbaring di atasku. Kontolku dipegangnya dan dicoba dimasukkannya ke dalam memeknya yang sudah sangat basah. Rasanya oooouuuuwwwww, ketika kepala kontolku mulai masuk. Aku yang kegelian hampir tak tahan. Maklum, waktu itu kontolku baru punya jam terbang yang dapat dihitung dengan jari kaki dan tangan ( jari kaki dan tangan enam orang maksudnya ), dan karena masih muda, jarang memakai "pendahuluan" yang cukup lama. Biasanya kalau keduanya sudah tegang ( kalau main dengan cewek lain ), lalu langsung kumasukkan, eyakulasi sama-sama dan kucabut. Ini lain. Dengan Lia permainan permulaannya sudah seru duluan! ( Buatku waktu itu, ketika aku "belum berpengalaman"! )
Betul, saking gelinya, aku yang di bawah sampai mengangkat kepala tak tahan geli dan mau bangkit. Pas saat itu, kepalaku dipegang Lia, dibawanya ke tetek sebelah kiri. Melihat ada tetek kenyal putih menantang, langsung kujilati dan kuisap-isap. Baru sebentar, Lia mengerang ...... "Ohhhhhh........ Wied .......... Lia nyampeeeeeeeeeeeeeee."
Gile, baru sebentar ia sudah nyampe!
"Kamu belum apa-apa, ya ?" tanyanya sambil menciumi mulutku. Aku diam tak bisa menjawab karena mulutnya menyerang sana-sini. "Gantian Lia di bawah, deh, biar kamu juga nyampe !"
Ia membalikkan badan. Melihat sekilas badannya yang indah dan putih itu, kontolku terasa enak-enak nyeri, rasanya ada yang "kelenyer-kelenyer" akan mengalir keluar dari ujung kontolku. "Gile, aku udah mau keluar ......" pikirku. Betul, ketika aku baru tiga kali memompa, spermaku keluar. Kupeluk erat-erat badannya, ia juga memegangi pantatku erat-erat sambil berbisik "Masukkan semua, Wied....... masukkan semua ......." Kutekan erat-erat kontolku ke dalam memek bidadari ini, kumasukkan semua benih hidupku ke dalam jaringan tubuhnya.
Ketika aku mau berguling ke sebelah badannya, dilarangnya aku. Ia ingin aku tetap di atas tubuhnya, dengan kontolku masih di dalam memeknya. Kunikmati saat itu dengan mempermainkan dagunya, menjilati teteknya dan mengencot-encotkan kontolku ke dalam memeknya. Ia tetap menciumiku. Kontolku sendiri tetap tegang di dalam memeknya.
Lima menit kemudia nafsunya bangkit lagi. Ia mengerang pelan, sambil menggoyang-goyangkan pantat. "Lia nafsu lagi, nihhh," erangnya. Kontolku sendiri yang tadi sempat sedikit mengecil menjadi besar kegelian tergesek-gesek permukaan dalam memeknya. Lalu ....... "Uuuuuuhhhhhhhh." Bibir memeknya seakan memijat kontolku. Aku merasa kontolku kegelian, geli-geli enak sampai seakan-akan badanku meronta-ronta di atas badan Lia. Lia sendiri terangsang dengan gerakanku, memelukku erat-erat sambil keras menggoyangkan pantanya memutar.
Dalam 20 menit kemudian, 2 kali lagi ia mengalami orgasme. Gila, pikirku. Pijatan memeknya membuatku sekan melayang ke surga, tetapi aku sendiri baru sempat orgasme sekali. Lalu ia mulai melemas seakan tak berdaya.
Habis itu lalu terjadi "perkosaan". Aku tidak tahan lagi. Lia kugulingkan ke sana-kemari menuruti nafsuku. Kadang kucabut kontolku dari memeknya, kumasukkan mulutnya, lalu kucabut dan kugesekkan di antara lembah tetek-teteknya, lalu kumasukkan mulutnya lagi, lalu kumasukkan memeknya. Aku orgasme 2 kali lagi. Sekali di mulutnya, sekali di ujung memeknya ( dasar belum pengalaman, karena kegelian digesek jembutnya, begitu kontolku sampai di ujung memek langsung keluar spermaku ).
Lia sendiri pasrah saja kuperlakukan seperti itu. Ia seakan sudah tidak berdaya. Kugulingkan ikut saja, kusuruh mengulum kontolku yang basah mau saja, mengurut-urut kepala kontol di dadanya juga ikut, membantu memasukkan kontolku ke memeknya juga turut saja.
Ketika kami berdua sudah tidak berdaya lagi, kulihat jam. Dua setengah jam sudah berlalu sejak kami masuk ke kamar itu. Akhirnya kami tak kuat lagi dan terkapar kepayahan. Lia matanya tertutup, kelihatannya ia lelah sekali dan mengantuk berat.
Aku bangkit dan barulah tercium bau sperma bercampur keringat di kamar itu. Lia sendiri sudah tidak berdaya lagi. Ia sudah tergeletak begitu saja telanjang bulat. Kuselimuti badannya dan aku mulai memunguti pakaianku yang terserak di sana-sini. Kusemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau "mesum" itu. Untung Erik lagi pulang ke Cikampek ....... Kucium dahi Lia, kututup pintu kamar dan aku pamit ke tante kos .............
Esoknya aku datang lagi. Hari Minggu ini Lia mengaku sakit kepada tante kos dan minta, "Si Wied ngerawat saya, ya tante." Jadinya kami berdua berbulan madu di kamarnya sepanjang hari............. Dan terjadi perkosaan lagi, yang ternyata disenanginya.
________________________________________
Dalam perjalanan pulang aku berpikir bahwa hubungan kami sudah berubah. Kalau selama ini aku menganggap dia sebagai kakak, karena lebih tua 1 tahun - lagi pula ia lebih tinggi dibandingkan badanku ( apa hubungannya, ya ? ), malam ini hal itu sudah berubah. Kakakku sayang itu telah membuatku merindukannya sebagai orang lain ....... ( Kalau aku boleh berterus-terang: aku akan merindukannya untuk merasakan memeknya yang sangat basah dibelah kontolku, untuk kudekap ketika ia telanjang bulat-bulat, untuk menggeser-geserkan ujung hidungku di permukaan jembutnya yang hitam, lebat dan merangsang itu, untuk genggaman baik tangan maupun mulutnya bagi kontolku yang tegang ....... )
Kelelahan akibat tenagaku habis untuk "memperkosa" dia, aku langsung tertidur begitu kepalaku menyentuh bantal.
Pagi harinya, Minggu, adikku ( calon ipar ), memberitahuku begitu aku keluar kamar: "Mas, temennya yang di Kramat sakit. Tadi pembantunya yang nelpon ke sini." Ouw, belum tahu dia siapa yang dimaksudkannya itu .........
Kira-kira jam 10 pagi aku sudah nongol di kos Lia. Tante kos menyambutku di pintu, "Lia pucat, Wied. Coba tengok dia. Ini sarapannya sekalian dibawa masuk saja."
Lia sedang duduk di meja rias ketika aku masuk. Rupanya ia sudah mandi. Badannya sedang disemprotnya dengan parfum - harumnya mek ! Badannya dibalut daster tipis pendek, hanya sampai atas. Celakanya, ia duduk mengangkang menghadap pintu, sehingga jelas kelihatan kalau ia tidak memakai CD dan jembutnya yang lebat, hitam dan panjang-panjang itu kelihatan. Ketika melihat mataku menatap ke situ, ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum, "Kamu senang melihat ini, ‘kan ?"
"Kata tante, Lia sakit. Ini dimakan dulu sarapannya," kataku sambil meletakkan baki.
"Lia sudah makan roti tadi. Emang Lia ogah keluar, biar kamunya gampang di sini seharian ini," bisiknya nakal di telingaku. Begitu tanganku meletakkan baki sarapan, ia menarik tanganku untuk dibimbing ke arah jembutnya. "Lia ingin seperti tadi malam lagi ........." bisiknya mulai terengah-engah ketika jari-jariku sudah membelah hutan hitam lebat itu.
Cewek Cina satu ini rupanya mudah sekali terbakar. Kukatakan itu padanya, "Lia ini mudah terangsang, yaa...."
"Lia pengin sekali, Wied. Udah kama enggak dijamah di sebelah situ. Dulu sama John ( pacar bulenya yang meninggal kecelakaan pesawat di Belgia ) biasanya cuma sekali saja setiap kali main. Sama kamu bisa lama, bisa berkali-kali lagi ........"
Tanganku sudah menemukan lubang memeknya, yang sudah mulai basah. Kucari ujung kelentitnya yang semalam memang menonjol sekali. Kuelus-elus daging kecil yang menonjol itu. Ia menggelinjang-gelinjang lalu tangannya mulai merayapi pahaku mencari tonjolan kontolku yang memang sudah menegang. Tetapi ia kudorong ke tepi tempat tidur, lalu duduk di tepinya.
Tangan di ujung kelentitnya kugantikan ujung lidahku. Lia mengeletar sesaat. Ia lalu menunduk, mencoba memasukkan tangannya ke dalam CD-ku, merogoh kontolku. Kuelus-elus kelentitnya dengan ujung lidah, sementara ia menempel di punggungku mencoba merogoh isi CD-ku.
Akhirnya ia menarik tubuhku, digulingkannya ke atas tempat tidur. Dengan demikian ia leluasa menarik ritsleting celanaku dan merogoh dengan leluasa ke dalam CD. Ada sensasi tersendiri ketika tangan lentiknya membebaskan kontol tegangku dari kungkungan sarang-sarangnya yang ketat ( celana panjang dan CD ). Dalam posisi 69, ia menggenggam-genggam kontolku. Rasanya kontolku melar, menjadi lebih besar setelah disinggung telapak tangannya yang halus.
Aku sendiri berkonsentrasi kepada memek basah yang kelentitnya menonjol itu. Kujilati ujungnya, sambil tanganku masuk ke lubang memeknya, memutar-mutar di situ. Hal ini berlangsung beberapa lam, lalu seperti semalam, tiba-tiba ia membalikkan diri dan duduk di atas badanku. Langsung saja memeknya dimasukkannya sambil mengangkang di atas tubuhku. Kata-kata seronok keluar dari mulutnya sambil matanya setengah tertutup. Kunikmati saja pemandangan ini, sambil merasakan kontolku memasuki memeknya yang basah.
Aku merasa geli ketika ujung kepala keontolku tergesek kelebatan jembutnya. Lalu tergelinjang ketika berhasil kutembus ujung memeknya yang basah. Kugigit bibir bawahku, supaya sensasi yang kurasakan di ujung itu tidak menyebabkan spermaku memuncrat keluar. Lia sendiri seakan kesetanan mengerak-gerakkan tubuhnya ketika itu. Sedikit sulit karena gerakannya itu, akhirnya seluruh batang kontolku masuk, menghilang dihisap memeknya.
Begitu kontolku masuk semua menghilang di dalam tubuhnya, Lia memelengkungkan tubuh, mendekapku erat-erat. Ia menciumi bibirku, lidahnya liar mencari lidahku. Tanganku mendekap punggungnya, lidah kami berbelitan seru.
Lalu ia berguling ke kiri. Aku berada di atas sekarang. Mulutnya mencari pentil dadaku, tetapi karena badannya lebih panjang dariku, ia gagal menemukannya. Giliran mulutku yang menghisap ujung pentilnya. Keuntungan bahwa aku lebih pendek adalah aku lebih mudah menghisap pentilnya atau mempermainkan teteknya memakai mulut selama persetubuhan kami. Ia kegelian. Lalu berguling ke kanan, sehingga ia berada di atas lagi.
Selama persetubuhanku dengannya, aku mempunyai pengalaman berguling-guling, bergantian di atas atau di bawah selama bersetubuh. Mungkin karena kunilai badannya sangat menarik dan merangsang, mudah saja ini kulakukan sambil kontolku tetap berada di dalam memeknya.
Ia berkonsentrasi di atas tubuhku. Pantatnya bergerak maju mundur, sambil tangannya memegangi perutku. Matanya tertutu-terbuka, mulutnya mendesis keenakan. Kadang-kadang kepalaku ditariknya bangun untuk menghisap tetek-teteknya. Tanganku tetap berada di teteknya, bermain memutar-mutar bundaran tetek-tetek itu sambil memijit-mijit atau memilin-milin pentilnya.
Tiba-tiba ia membungkuk, memelukku erat-erat sambil mengeluh panjang.
Ia orgasme !
Lalu dengan penuh pengertian ia membalikkan tubuh-tubuh kami. "Perkosa lagi aku seperti semalam, Wied," katanya lirih.
Tetapi kali ini aku tidak mau seperti tadi malam ( ternyata ketika ke-3 dan selanjutnya hari itu, aku tak dapat menahan diri lagi, sehingga ia kujadikan "boneka seks" dan dia menikmati itu ). Aku berkonsentrasi untuk mengeluarkan spermaku dengan menggenjot pantatku, memasuk-keluarkan kontolku di memeknya. Kupeluk erat-erat ia, kugenjot kuat-kuat pantatku. Ia membantuku dengan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, mengelus rambutku, sampai akhirnya kutekan erat-erat ujung memeknya dan kumuncratkan spemaku dalam-dalam ke tubuhnya.
Kejadian tadi malam terulang lagi. Ketika kupeluk erat-erat badannya, ia juga memegangi pantatku erat-erat sambil berbisik, "Masukkan semua, Wied....... masukkan semua ......." Kutekan erat-erat kontolku ke dalam memek bidadari ini, kumasukkan semua benih hidupku dalam-dalam ke dalam jaringan tubuhnya.
Ia juga melarangku lagi ketika akan kucabut kontolku dan berbaring di sebelahnya. Ia minta aku tetap tiduran di atas tubuhnya. Aku menciumi dagunya, memeknya yang putih dan sesekali memasukkan lidah ke mulutnya. Kujilat-jilat ujung pentilnya, sambil menghisapnya kecil-kecil. Sesekali ia menggelinjang geli, biasanya lalu pantatnya begerak-gerak dan memeknya menghisap-hisap kontolku. Aku merasa ada yang bangkit lagi di dalam tubuhku. Kontolku yang belum mengecil terasa menegang lagi.
"Burungmu gede lagi, ya ?' tanya Lia yang juga merasakannya.
Aku diam saja sambil berkonsentrasi menjilati ujung pentilnya, menghisap seluruh bundaran teteknya sambil mengeluar-masukkannya. Tanganku menggelitik ujung bawah telinganya.
Lalu nafsunya bangkit lagi. Ia mengerang pelan, sambil menggoyang-goyangkan pantat. "Lia nafsu lagi, nihhh," erangnya. Kontolku sendiri sudah tegang penuh di dalam memeknya. Lalu ....... "Uuuuuuhhhhhhhh," bibir memeknya seakan memijat kontolku. Aku merasa kontolku kegelian, geli-geli enak sampai seakan-akan badanku meronta-ronta di atas badan Lia. Lia sendiri terangsang dengan gerakanku, memelukku erat-erat sambil keras menggoyangkan pantatnya memutar.
Gerakan-gerakan liar kami kembali terjadi. Seluruh tempat tidur menjadi kusut dan basah kuyup. Hebat sekali gerakan-gerakan Lia ini. Seluruh tubuhnya seakan menyatu dengan tubuhku, menghisap dan memuntahkan kembali tubuhku, begitu berkali-kali. Dalam 20 menit kemudian, 2 kali lagi ia mengalami orgasme. Setiap kali ia berhenti sebentar, mengerak-gerakkan pantatnya dan menjadi bernafsu kembali. Gila, pikirku. Pijatan memeknya membuatku sekan melayang ke surga, tetapi aku sendiri baru sempat orgasme sekali. Lalu ia mulai melemas seakan tak berdaya. Habis itu lalu terjadi "perkosaan" lagi seperti tadi malam. Lia kugulingkan ke sana-kemari, kadang kucabut kontolku dari memeknya, kumasukkan mulutnya, lalu kucabut dan kugesekkan di antara lembah tetek-teteknya, lalu kumasukkan mulutnya lagi, lalu kumasukkan memeknya. Aku orgasme beberapa kali.
Lalu aku kelelahan. Ia juga kelelahan. Aku tetap tak boleh turun dari tubuhnya. Tanpa daya aku betul-betul menidurinya. Tidur di atas tubuhnya. Kami akhirnya sama-sama tertidur, telanjang bulat bertumpuk-tumpukan. Ketika terbangun, aku sudah terguling di sampingnya. Lia masih tertidur, lengannya melingkari dadaku, satu tangannya menggenggam kontolku yang sudah mengecil. Lalu ia terbangun. Melihat tubuh kami telanjang bulat, ia bangun, membungkuk dan menjilati kontolku sampai terbangun.
Hari itu kami sampai sore berada di kamarnya, tetap telanjang bulat. Sarapannya yang tadi kumasukkan, kami makan bersama. Ketika keluar kamar jam 5 sore untuk mencari makan sore ( atau malam ? ) badanku serasa remuk redam. Tetapi aku puas sekali. Di taksi kami berdempetan erat seakan tidak terpisah .........
________________________________________
Hari Senin tengah hari Lia menelponku, telpon ke-2 hari itu. Telpon sebelumnya ia mengatakan bahwa kemarin sore begitu kutinggal jam 7.30 malam sepulang mencari makan malam, ia langsung tertidur. Ia menutup telpon itu sambil berkata: "Lia menunggu waktu bertemu lagi ......" Pada telpon kedua ini ia mulai dengan bercerita bahwa ia keisengan di sebelah belakang apotiknya. Kebetulan siang itu memang lagi tak ada pelanggan yang datang.
"Teman-temanku lagi pada keluar makan siang, nih," katanya pada telpon kedua itu.
"Sendirian, dong Lia," jawabku.
"Iya," Ia terdiam sesaat. Lalu berbisik, "Wied, Lia akan menelanjangimu ....."
"Apa ?" tanyaku tak paham.
"Menelanjangimu. Lalu kita main-main dengan Jonimu, eh, burungmu lagi ......."
Aku tetap tak paham, sampai ia berbisik lagi di telepon, "Tangan Lia mulai membuka kancing paling atas, nih." Aku belum sadar apa maunya.
"Lalu kancing di bawahnya." Lho ? pikirku bertanya-tanya mulai agak paham.
"Lalu tangan Lia menyelusup ke dada. Mencari pucuk pentilmu........" O,o,o itu toh maksudnya ...............
"Kancing bawahnya juga Lia buka. Lalu Lia mulai menyelusuri dadamu dengan lidah ....."
"Aah, Lia, udah kerasa dikit, nih.........." timpalku, juga berbisik.
"Lia menyelusup, nih, ke perut sambil membukai retsleting celana ......."
"Ouw, Lia, jangan keras-keras dong pegangnya," kataku menimpali.
"Lia memegang Joni-mu yang masih kecil tetapi sudah agak tegang ........ Eh, setelah dipegang, Jonimu kok mengembang, ya .............."
"Aaah, Lia, enak, terusin dong......" jawabku.
"Tangan Lia memegang Jonimu yang mengeras ....... jari-jari Lia meluncur ke sebelah atas ..... kepalanya yang licin Lia elus-elus .......... Lalu lidah Lia mulai mengitari kepala Jonimu ........ eh, kok keluar airnya, yaaaaa........."
Tentu saja kontolku menjadi menegang, siapa yang enggak ?
"Aaah, Lia senang sekali menjilati Joni bundar ini ........... usp .......usp ....... kerasa enggak, Wied ?"
"Ah, gila, Lia ....enaaaaaak sekali. Lagi dong.................. terusin......."
"Iya Wied ......usp ...... usp ...... airnya pekat, ya, ..... usp ...... usp .............. Gila, Wied, Lia jadi basah sendiri, nih ........ udahan, ah, ‘ntar Lia malah masturbasi di sini ......"
Aku tertawa saja. Gila juga ini cewek, main seks di telpon. Kuletakkan gagang telpon itu, sambil tanpa sadar mengelus-elus kontolku yang menegang .........
Sebelum mempunyai cukup pengalaman dulu, aku berpendapat bahwa hanya cowok yang akan mengejar-ngejar cewek. Tetapi Lia menyadarkanku bahwa cewek dapat menempel erat si cowok, selalu mencari terus. Lia memang akhirnya menempel ketat padaku. Ia dapat menelpon ke kantor 3 kali sehari, menanyakan apa saja: makanan, tugas, teman, atasan, cuaca, apakah AC kantor terlalu dingin, apakah vitamin yang diberikannya kemarin sudah kumakan sesuai jadual dan sebagainya. Yang membuatku terekat dengannya, tentu saja sebagai lelaki, adalah bahwa pada awal-awal kedekatan kami adalah bahwa dengannya aku dapat bermain seks dengan hebat, lama, menyenangkan dan nikmat. Untuk menghindari kecurigaan Erik - adik kandungnya yang tinggal satu kos - dan tante kos, kami sering menginap di hotel-hotel berbintang. Kedudukan Lia di apotiknya, menyebabkan ia banyak mendapat tawaran keanggotaan di hotel-hotel itu.
Hal pertama kami lakukan dua minggu kemudian. Selama dua minggu itu Lia masuk pagi terus, sehingga bisa pulang jam 5 sore. Kuliah Erik biasanya selesai jam 8 malam, jadi kami selalu sempat mencuri waktu untuk main-main di kamarnya ( setubuh kecil, istilah Lia ).
Jumat malam kami check-in di hotel. Dari meja resepsionis, di lift sampai masuk kamar, Lia memegang erat lenganku. Kelihatan sekali kami seperti pasangan yang sedang erat-eratnya ( masakan kutulis "berbulan madu" ? ). Walaupun mungkin "cukup timpang": si wanita tingginya 170 cm, sedang cowoknya 10 cm di bawahnya. Room boy yang mengantar kami ke kamar, langsung keluar ketika Lia mengulurkan tip cukup banyak.
Kami mulai membongkar tas pakaian, menatanya di lemari. Rencananya kami akan check out Minggu siang. Jadi cukup lama - dan cukup puas - kami akan saling menikmati tubuh masing-masing ( itu yang dikatakannya ketika mengajakku ke hotel ini ).
Belum sempat aku menyelesaikan pekerjaanku, Lia - yang sudah selesai lebih dulu - langsung memelukku dari belakang. Tanganku langsung dibimbingnya ke selangkangannya. Ampuuun, rupanya CD-nya sudah dilepaskannya dari tadi. Tanganku disambut rambut-rambut tebal, lebat dan sudah mulai dibasahi air. Karena ia tetap berdiri, aku berlutut dan menyibakkan rambut-rambut jembut itu. Rok panjangnya sudah dilepaskannya. Kucari kelentitnya yang biasanya menonjol, lalu kugesek-gesek dengan ibu jari dan ujung telunjukku. Ia mencoba mencopoti bajuku.
Rupanya Lia keenakan. Tangannya memegang kepalaku, dimajukannya ke selangkangan itu. Kugesek-gesekkan ujung hidungku ke jembut lebat hitam itu. Lalu kujulurkan lidah menyentuh ujung kelentit yang kujepit memakai telunjuk dan ibu jari. Oouuuwwwww, licin nian daging kecil menonjol kemerahan ini! Lia mengelinjang sambil memutar pantatnya. Mulutnya mengeluarkan desis keenakan ....... "uuuuhhhh.....ahhhhhhhh......uhhhh......ahhhhhhh......" lalu tiba-tiba diseretnya aku ke tepi tempat tidur sambil mencopoti celanaku.
Lalu aku duduk di lantai, kepalaku tersandar ke tepi bed. Sambil tetap berdiri menghadapku, ia memajukan selangkangannya ke mulutku. Jadilah aku diperkosanya untuk menjilati memek dan kelentitnya. Mulutnya mendesis-desis keenakan, tangannya ribut mencopoti sisa pakaiannya. Tangan kananku mempermainkan pantat-pantat putihnya yang memutar-mutar sambil kuremas-remas. Tangan kiriku mengacung ke atas mencari pentil teteknya. Ketika ketemu, kupelintir pelan-pelan pentil itu. Gerakan memutar pantat Lia semakin menggila, sembari lidahku menerobosi memek, menjilati ujung dan tepi-tepi kelentitnya. "Uuuhhhh.............. ahhhhhhhhhhhhh ................ uuuuuuuhhhhhhhhhhh..............aaaaahh," desisnya sambil memaju-mundurkan pantatnya, menekankan kelentitnya ke mulutku mencari jilatan lidahku. Lalu pantatnya memutar dengan liar. Maju, mundur, memutar, maju, memutar, maju, memutar .............................. Gila ini cewek, pikirku terangsang.
Tiba-tiba Lia berhenti bergerak. Mundur dan diangkatnya aku untuk berdiri. Lalu seakan gila, dengan serabutan ditarik-tariknya pakaianku yang belum sempurna terlepas. Begitu terlepas semua, didorongnya aku ke bed. Gila, cewek ini menjadi buas dan liar jadinya. Aku berbaring menelentang di sebelah bawah, Lia berbaring menempel erat-erat di atas menghadapku. Kepalanya menghadap kakiku, selangkangannya, di mana terletak jembut lebat, hitam dan panjang-panjang itu, menempel di mulutku.
Tangannya langsung menggenggam kontolku, digelitikinya ujungnya memakai lidah. Ujung lidahnya memutar-mutar, berkonsentrasi di ujung kepala kontolku itu. Sementara jembutnya digerak-gerakkan, mencari posisi mulutku. Begitu lidahku masuk menerobos jembut-jembutnya lagi dan menyusuri kelentitnya, dengan gerakan liar, memutar dan menaik-turunkan pantatnya, ia mulai bergerak ke arah kiri, memutari tempat tidur sambil menyeret kontolku di mulutnya. Aku mengikutinya memutar ( abis, masa diam saja dan melepaskan kelentit di memeknya yang menggairahkan itu ? ). Lalu ia berhenti. Ia bangkit dan menduduki selangkanganku.
Kalau melihat tubuhnya dari arah depan begini, aku melihat tubuh telanjangnya yang putih menggairahkan itu. Yang membuat kontolku semakin tegang adalah gerak-geriknya yang seakan musafir sudah kehausan 4 hari di padang gurun menemukan mata air. Matanya menciut, mulutnya membentuk huruf o kecil, tangannya bergerak liar ke sana kemari, lehernya jenjang dan anak-anak rambutnya di leher, ow ow ow ow ow ow ow, aku tak dapat menggambarkan dengan kata-kata keindahan yang disediakan di atas tubuh telanjangku itu, tubuh yang sebentar lagi akan menyatu dengan tubuh telanjangku juga. Tubuhnya mulai dari bahu menurun sampai pantat seakan sarat gairah seks yang menjanjikan kenikmatan bersama yang indah. Ini yang membuat kontolku dapat terus berada di dalam tubuhnya tanpa sempat mengecil setiap kali kami habis orgasme. Apalagi kebinalan Lia seakan setiap 10 menit sehabis setiap bersetubuh seakan-akan akan "kumat" lagi, ia pasti akan mulai bangkit lagi gairahnya.
Kontolku sudah siap full action kini. Tegang penuh mengarah ke atas. Ia pelan-pelan menurunkan tubuhnya, memeknya persis di atas tiang hidup itu. Tangannya mengelusi kontol tegangku, pelan-pelan menurunkan tubuhnya. Ooouuwwww, pelan-pelan ada sensasi yang dimulai ketika ujung kepala kontolku memasuki liang memeknya yang basah dan dijagai jembut hitam, pekat, panjang dan lebat itu. Betul-betul penuh sensasi yang membuat dada dan kontolku berdesir-desir !
Dimulai dengan gesekan jembutnya di kepala kontolku yang membuatku merasa geli-geli enak. Lalu ujung kepala kontolku mulai menembus daging yang basah-basah menggelincir. Lalu kepala itu mulai terbenam memasuki liang basah. Lalu batang kontolku mulai menembusi memeknya. Begitu masuk sampai akhir batangnya, ketika batang kontolku sudah sempurna menancap ketat di memeknya, mempersatukan tubuh-tubuh kami, Lia menggelinjang. Tangannya geragapan mencari pegangan di perutku.
Ia terdiam sejenak. Matanya memejam. Kepalanya melengak.
"Kita bersatu, Wied. Tubuh Lia menyatu dengan tubuhmu. Kita jadi satu ......" bisiknya membuatku berdesir. Cewek ini ! Persetubuhan inipun dinikmatinya sebagai persatuan tubuh-tubuh kami !
Lalu pelan-pelan ia mulai memundurkan pantatnya. Lalu maju. Lalu mundur lagi. Lalu maju lagi. Tangannya perlahan-lahan ke atas, ditaruhnya di belakang kepalanya yang melengak. Lalu ia mulai agak cepat memaju mundurkan pantatnya, seakan menikmati sensasi yang muncul dan terasa karena kelentitnya menggeseki batang kontolku. Kontolku itu seakan menjadi penghubung tubuh-tubuh kami ( makanya disebut bersetubuh ! ), menjadi alat nikmat baginya.
Tiba-tiba saja, ia kesetanan memaju-mundurkan pantatnya. Lalu menurunkan tubuh, sekarang ia berbaring memelukku, pantatnya naik-turun sambil tetap bersumbukan kontolku.
Lalu .................
"Aaaarrgggghhhhhhhhhhhh !!!!!!!" mulutnya berteriak keras sambil menghunjamkan pantatnya, menekankan memeknyanya keras-keras ke pokok batang kontolku. Tangannya memelukku suangat erat. Nafasnya tersengal-sengal. ( Untung di hotel, jadi kami aman-aman saja, tak ada yang menggubris teriakannya. )
Kupeluk erat-erat "kakakku" yang menggairahkan ini. Kata-katanya sebelum kesetanan tadi menyentuh hatiku. Kuciumi bagian atas kepalanya. Ia seakan terlelap di atas tubuhku. Tetapi aku sudah mahfum, sebentar lagi akan tiba giliranku menumpahkan semua gejolak kesesakan gairah seksualku ke atas tubuhnya.
Kuelus-elus tubuhnya yang terdiam kepayahan setelah melepaskan sepenuh hasratnya. Kuelus pantatnya, pinggangnya, pungungnya, bahunya. Sialan, walaupun aku merasa sangat sayang pada "kakakku" ini, tetap saja - sebagai lelaki - pikiran jorok untuk sebentar lagi menikmati tubuhnya tetap saja memberi instruksi ke bawah, ke kontolku, yang terasa tambah tegang ketika kontol itu mengantisipasi tugas yang sebentar lagi akan dijalankan. Kakakku satu ini memang partner seks yang hebat. Kami saling menikmati tubuh kami, saling memberikan keahlian untuk mencapai kenikmatan dan kepuasan seksual. Berpikir demikian, aku mulai menggoyangkan pantatku ke atas kebawah. Kontolku yang semakin tegang menusuk-nusuk kedalaman memek Lia.
Merasakan kontolku menegang di memeknya, Lia mengulurkan tangannya ke mukaku. Mengelus-elus mukaku. Lalu pelan-pelan menggulingkan badan ke samping sambil tetap memeluk erat dan menarik tubuhku ikut berguling. Nah, apa kubilang ........ kini giliranku ! Kujauhkan kepalaku dari wajahnya yang masih menutup mata. Wajahnya yang mencerminkan kepuasan seksual dengan keringat sedikit membasahi wajah putihnya membuat desir aneh di dadaku. Kucium mulutnya. Ia membuka matanya sambil membuka mulut dan membelit lidahku yang mulai menerobos mulutnya. Tangan kiriku turun membelai dadanya, mencari pucuk pentil dadanya. Kutekan-tekan ujung itu ......... turun ......... dan kupencet-pencet bundaran sekeliling dadanya. Mulutku kutarik, kutelusuri pipinya ......... turun ke dagunya yang lancip ........ kugigit-gigit kecil dagu itu ....... tangan kananku menggelitiki belakang telinganya ...... mulutku turun menghisap-hisap lehernya yang selalu kukagumi karena jenjang, putih dan licin itu. Kontol di dalam memeknya terasa tambah menegang.
Lalu mulutku menelusuri dadanya. Kugesek-gesek, kujilati dan kuhisapi kulit di dadanya. Lalu sampai ke teteknya. Tubuh Lia terasa tegang sejenak. Lalu mulai lagi "tarian" liarnya, begitu mulutku mencucup ujung pentilnya. Tangannya turun memegang pantat-pantatku sambil menekan-nekankannya ke arah memeknya. Sebentaaaaaar ......, gumamku, aku belum mau main di sebelah situ ...........
Lia ini memang "mudah panas". Ia sudah mulai menggerak-gerakkan pantat, menggeser-geser ke kanan dan ke kiri. Aku mulai terangsang, mulai ikut menggenjot pantatku masuk-keluar memeknya. Lia tetap menggeser-geser pantatnya. Bed besar ini mulai kami jelajahi. Dari tengah, ke tepi kanan .......... ke tengah lagi ......... ke tepi kiri bawah ......... ke kanan bawah ........ Kelenturan kasurnya membuat permainan ini semakin mengasyikkan. Pantatku sudah seakan kesetanan bergerak naik-turun, maju mundur, dan bergerak ke sana kemari mengikuti gerak pantat Lia.
Ruasanyaaaaa, mekkkkkkkkkk .............................
Ketika kurasa kontolku akan memuncratkan sperma, kutahan gerak liar Lia. Ia juga mendesis-desis liar .........................
Tiba-tiba, "Aaaaarrrrrrgggggghhhhhhhhhhhh," desisnya dalam-dalam, pantatnya diangkat tinggi-tinggi sambil badannya bergerak semakin liar.
Tetapi gerakannya kuhentikan. Kutekan badannya, kutekan pantatnya ke bawah, kutekankan juga kontolku ke arah memeknya. Lalu .....................
"Creeeeeeetttttt crettttttttt crettttttttttt....." kontolku memuntahkan zat hidup dalam-dalam ke tubuhnya. Sadar bahwa kami orgasme bersamaan, Lia tiba-tiba jadi liar kembali lalu berteriak keras-keras.
Kuatir akan menjadi geger, kututup mulutnya memakai tangan. Tubuhnya melemas, lalu langsung tertidur.
Aku tetap berada di atas tubuhnya, juga mulai mengantuk ...........
Aku terbangun ketika merasa ada yang menjilati kontolku. Rupanya Lia sudah bangun lebih dulu dan berkonsentrasi "membersihkan" kontolku dari sisa-sisa pergumulan hebat kami.Tentu saja aku terangsang kembali melihat tubuh putih langsing telanjangnya tersaji begitu saja di hadapanku. Apalagi mulutnya yang bundar indah dan lidahnya yang membuatku menggelinjang-gelinjang sedang berkonsentrasi memutari kepala kontolku yang sudah separuh tegang.
Gila .............................
Kali ini belitan tubuhnya membuat kami terguling ke atas karpet di bawah. Dasar Lia, ia tidak berhenti, jadi kami berputar-putar ke sana-kemari di atas karpet, berguling-gulingan dan berbelitan dengan tubuh telanjang bulat.Satu setengah jam kemudian, dengan tubuh seakan tak berdaya, kami merangkak naik ke tempat tidur yang spreinya sudah tidak keruan bentuknya. Noda spermaku ada di sana-sini.
Malam harinya kami minta ganti sprei. Alasan kami adalah basah tertumpah minuman. Padahal sengaja kami basahi, ditumpahi air putih, karena keringat kami dan spermaku tercecer di mana-mana di sprei. Aktivitas seksual liar Lia ini betul-betul membuat waktu seakan tidak berarti lagi. Kalau nafsu mulai naik, kami akan berbelitan. Berbelitan mulut, badan meliuk-liuk, pantat maju mundur. Di mana saja: sedang mandi, gosok gigi, sambil duduk di meja dan sebagainya.
Yang sangat kusukai, setiap kali habis bersetubuh, Lia akan membersihkan kontolku dengan jilatan-jilatannya. Lidahnya yang panjang akan menyelusuri dadaku, perutku dan berkonsentrasi di kontolku, lalu dijilatinya seputar kepala kontolku, membersihkan sisa-sisa sperma yang ada. Lalu ia akan minum soft drink yang ada di kamar dan berbaring di sebelahku sambil menunggu nafsunya bangkit lagi sambil menggelitiki pentilku atau mencubit-cubiti dadaku.
Gila memang seks bersama Lia, awalnya sahabat penaku, lalu jadi kakakku dan sekarang menjadi partner seksualku yang menggairahkan ini ........................................
Sayang, akhirnya ia mundur dari hidupku ketika sadar bahwa ia lebih tua dan pacarku akan lebih cocok bagiku. Ia meninggalkan Jakarta, pamit akan menikah dengan bule lain. Tapi ia tahu di mana dapat menghubungiku.


5 komentar to "Amelia"

Posting Komentar